Catatan Kajian: Adab dan Harta Haram — Ustadz Ammi Nur Baith

 Beberapa waktu lalu saya mengikuti kajian bertema Adab dan Harta Haram bersama Ustadz Ammi Nur Baith dalam Kajian Wali Santri MIPS. Sebagai ayah saya merasa tema ini sangat penting: bukan hanya untuk diri sendiri, tetapi juga untuk membangun kesadaran keluarga tentang sumber rezeki dan adab terhadap harta.



Berikut rangkuman yang saya rapikan agar lebih mudah dibaca dan dibagikan.

1. Amal Saleh, tapi Tetap Takut Tidak Diterima

Dalam kajian disebutkan bahwa orang mukmin yang benar-benar beriman, bertakwa, dan memiliki sifat khauf—rasa takut kepada Allah—adalah orang yang tetap merasa khawatir apakah amalnya diterima.

Dalilnya adalah Al-Qur’an Surah Al-Mu’minun ayat 60:

“Dan mereka yang memberikan apa yang mereka berikan (bersedekah/beramal) dengan hati penuh rasa takut (karena mereka tahu) bahwa sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhannya.”

Ketika Aisyah radhiyallahu ‘anha bertanya kepada Nabi Muhammad ﷺ apakah ayat ini berbicara tentang orang yang berzina, mencuri, atau meminum khamr sehingga mereka merasa takut, Nabi ﷺ menjawab:

“Bukan wahai putri As-Siddiq. Mereka adalah orang-orang yang rajin berpuasa, shalat, dan bersedekah, namun mereka takut amal ibadah mereka tidak diterima oleh Allah. Mereka itulah orang-orang yang bersegera dalam kebaikan.”
(HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah)

Karakteristik utama mereka:

  • Ketulusan yang tinggi
    Mereka tidak merasa sombong atau ujub—bangga diri—setelah melakukan kebaikan.

  • Keseimbangan ibadah
    Mereka menyandingkan antara harapan (raja’) akan rahmat Allah dan rasa takut (khauf) akan keadilan serta perhitungan Allah.

  • Kesadaran hari akhir
    Mereka sangat yakin bahwa setiap amal akan dipertanggungjawabkan saat kembali kepada Allah kelak.

Rasa takut amal tidak diterima bukan berarti pesimis. Justru itu tanda hati yang hidup, yang terus mendorong seseorang memperbaiki ibadah dan tidak berhenti beramal.


2. Harta Haram Menghalangi Doa dan Amal

Dalam kajian ditegaskan bahwa:

  • Konsumsi harta haram menyebabkan doa tidak dikabulkan Allah.

  • Harta haram dapat menjadi penghalang diterimanya amal ibadah, termasuk doa, ibadah, dan amal-amal lainnya.

  • Rasa takut jika amal ibadah tidak diterima adalah rasa yang dialami oleh orang saleh.
    Misalnya, setelah shalat ia merasa khawatir ibadahnya belum diterima, sehingga ia terus memperbaiki ibadah-ibadah berikutnya.

Prinsip pentingnya adalah:

“Allah Maha Baik dan tidak menerima kecuali yang baik.”

Pernyataan ini bersumber dari Hadits Arbain ke-10, diriwayatkan oleh Imam Muslim dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّ اللَّهَ طَيِّبٌ لَا يَقْبَلُ إِلَّا طَيِّبًا

“Sesungguhnya Allah Ta’ala itu Maha Baik (Thayyib) dan tidak menerima kecuali yang baik.”


3. Makna “Allah Maha Baik” (Innahullaha Thayyib)

Kata thayyib dalam konteks ini berarti Mahasuci, Bersih, dan Sempurna.

a. Dalam Zat dan Sifat-Nya

Allah bersih dan tersuci dari segala bentuk kekurangan, cacat, aib, maupun keserupaan dengan makhluk-Nya.

b. Dalam Perbuatan-Nya

Semua takdir, keputusan, dan syariat yang Allah tetapkan seluruhnya baik dan mengandung hikmah yang luar biasa.


4. Makna “Tidak Menerima Kecuali yang Baik”

Prinsip ini mencakup empat hal utama dalam kehidupan seorang Muslim:

  1. Harta dan Sedekah yang Halal
    Allah tidak akan menerima sedekah, infak, atau ibadah haji yang didanai dari harta haram—seperti hasil korupsi, riba, mencuri, atau menipu.
    Sebanyak apa pun harta haram yang disedekahkan untuk proyek kebaikan, Allah tetap tidak meridhainya.

  2. Amal Ibadah yang Ikhlas dan Sesuai Syariat
    Suatu amal baru dianggap baik dan diterima Allah jika memenuhi dua syarat utama:

    • Ikhlas semata-mata karena Allah, bersih dari riya atau pamer.

    • Sesuai dengan tuntunan (sunnah) Nabi Muhammad ﷺ.

  3. Ucapan dan Keyakinan yang Bersih
    Allah hanya menerima kalimat-kalimat yang baik (al-kalimut thayyib), seperti zikir, doa, dan tutur kata yang santun, serta keyakinan (akidah) yang bersih dari syirik.

  4. Jiwa yang Bersih
    Allah tidak menerima seorang hamba di sisi-Nya kelak di akhirat kecuali mereka yang kembali dengan hati dan jiwa yang bersih (qalbun salim).


5. Dampak terhadap Terkabulnya Doa

Di dalam kelanjutan hadits tersebut, Rasulullah ﷺ menceritakan tentang seorang lelaki yang melakukan perjalanan jauh (safar). Penampilannya kusut dan berdebu—kondisi yang seharusnya membuat doanya sangat mustahil ditolak.

Orang itu menengadahkan tangannya ke langit dan berdoa:

“Ya Rabb, Ya Rabb…”

Namun, makanan yang ia konsumsi haram, minuman yang ia minum haram, pakaian yang ia pakai haram, dan ia diberi makan dari yang haram.

Maka bagaimana mungkin doanya dikabulkan?


6. Refleksi untuk Orang Tua

Sebagai orang tua, terutama yang memiliki anak usia dini, ada beberapa pelajaran penting yang bisa kita ambil:

  • Jaga sumber rezeki keluarga.
    Harta yang masuk ke rumah bukan hanya soal jumlah, tetapi juga soal keberkahan.

  • Ajarkan adab harta sejak dini.
    Anak-anak perlu tahu bahwa rezeki harus dicari dengan cara halal dan digunakan untuk hal yang baik.

  • Jangan meremehkan sumber pemasukan.
    Sekecil apa pun, jika berasal dari cara yang haram, dampaknya bisa besar bagi doa dan amal keluarga.

  • Perbaiki jika pernah terlibat harta haram.
    Bertaubat, mengembalikan hak orang lain, dan memperbanyak istighfar adalah langkah yang harus diambil.

  • Terus berdoa dan memperbaiki ibadah.
    Rasa takut amal tidak diterima seharusnya membuat kita semakin rajin berbenah, bukan justru berputus asa.


Penutup

Kajian ini mengingatkan saya bahwa harta haram bukan hanya masalah dunia, tetapi juga masalah akhirat. Ia bisa menjadi penghalang doa, penghalang diterimanya amal, dan sumber kegelisahan hati.

Semoga Allah menjadikan rezeki kita rezeki yang halal dan berkah, menerima amal-amal kita, dan mengabulkan doa-doa kita.
Aamiin.

Post a Comment